Menyepi ke Malino!

by - Maret 12, 2019

Kiri ke Kanan. Fira - Richard - Mela - Tias

Ngomong-ngomong soal liburan, sepertinya saya sudah lama tidak liburan (definisi liburan bagiku adalah keluar dari Makassar menuju suatu kota dan isinya cuma senang-senang HAHAHA) iya sudah lama saya tidak liburan kode ke bojo, berharap doski baca tulisanku ini.  Nahh, Kamis, 7 Maret 2019 kemarin saya akhirnya liburan lagi :D ke Malino!!! yeaaaay :'D (sekarang ke Malino aja saya sudah bahagia teman-teman :" semasa masih di Semarang dan Bandung, bosen dikit ke Jakarta lah, ke Jogja lah, ke Malang lah... hmmm #kemudianflashbacksambilnangis )

Kembali ke laptop, nah Kamis kemarin saya diajak liburan singkat ke Malino sama koh Jono empunya Miles co-working space, tempat yang selama 7 bulan terakhir jadi tempat favoritku bersama https://www.instagram.com/thebookclub.mks/ Cerita sedikit tentang @thebookclub.mks kecintaan saya ini, komunitas literasi yang kerjaannya baca buku minimal satu dalam sebulan sesuai tema lalu kami berdiskusi tentang buku bacaan kami masing-masing. Setelah bergabung di book club ini saya baru menyadari betapa menyenangkannya para stranger ini, betah deh sampai sekarang :'D

Berangkat ke Malino pukul 09.00 am memakai mobil Sike tapi Sike tidak ikut karena sedang menikmati liburannya di Jogja, di mobil itu saya berempat bareng kak Mela, mbak Tias dan Richard. Hal yang paling berkesan dari liburan kemarin bukan pas di Malino-nya tapi di sepanjang perjalanan Makassar-Malino dan Malino-Makassar. 

Kami berempat dan rombongan koh Jono singgah sejenak di salah satu rumah makan di bili-bili buat istirahat dan tentu saja makan! wkwk. Sudah lama saya tidak merasakan suasana hati seperti ini (sungguh mengenaskan nasibmu fir huhu) setelah foto-foto sedikit (iya memang saya sudah berubah pemirsa, tak lagi gila foto-foto seperti dulu, sekarang kalau ngumpul lebih suka menikmati momennya) kami makan sambil cerita-cerita, pokoknya perjalanan kemarin 89% cerita sisanya bahagia :p :D

Makan bersama di Bili-bili

Ikaaaaan! Bisa dimakan dengan tulangnya. Enaaak!

Gorengan tidak sehat tapi senak. APELO APELO!

Setelah kenyang bego kami melanjutkan perjalanan ke Malino, jarak Bili-bili ke Malino tidak begitu jauh lagi (saya tidak begitu menyimak waktu tempuh karena keasikan cerita! hahaha) dan di Malino ternyata sedang hujan deras :'D gugur sudah keinginan kami yang harusnya main paintball. Tapi tidak menjadi masalah karena kak Mela sangat solutif! Kak Mela membawa seperangkat eh dua perangkat boardgames miliknya, whoaaaaa kegabutan ini terselamatkan. 

Awalnya kami main boardgames di salah satu rumah makan yang kami singgahi ketika sampai di Malino, sampai kami dapat kabar kalau rombongan koh Jono yang harusnya nyusul membatalkan karena ada halangan, sayangnya dia sudah booking kamar di salah satu resort di sana dan akhirnya resortnya kami yang pakai untuk main boardgames HAHAHA.

Boardgames mewah, di resort :D

Perjalanan kali ini sebenarnya bukan cuma sekadar jalan-jalan dan meninggalkan hiruk pikuk kota Makassar sejenak, perjalanan ini bagi saya pribadi membuat saya belajar banyak hal dari berbagai macam perspektif dan latar belakang. Kak Mela seorang dokter gigi yang pernah menghabiskan waktu sekolah di luar negeri, mbak Tias anak Semarang yang betah kerja di Makassar, dan Richard mahasiswa ko-ass kedokteran gigi yang pernah ikut OSN dan jadi salah satu dari 30 siswa terbaik se-Indonesia. Background keilmuan dan keluarga harusnya cukup menggambarkan betapa berbedanya kami, tapi yang saya rasakan, sebaliknya.


Kami ber-4 sharing mengenai pendidikan, saya mendapatkan perbandingan yang menurut saya valid karena kak Mela pernah sekolah di luar dan Richard yang beberapa kali mengikuti conference di luar negeri juga dan mbak Tias yang sekolah di Jawa dan sekarang menetap di Makassar. Ada banyak hal yang kami bagikan bersama. Lalu kami juga diskusi tentang parenting, betapa susahnya menjadi orang tua masa kini (padahal kami ber-4 belum ada yang jadi orang tua, bahkan yang status menikah baru saya seorang diri lol) belum jadi orang tua bukan berarti kami tidak boleh belajar tentang hal tersebut kan ? Kami cerita berdasarkan pengalaman masa kecil masing-masing yang ternyata berbeda tapi sama *nahloh bingung gak lo* dan harapan serta keinginan kami saat kelak dipercaya menjadi orang tua.

Latar pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda memantik kami untuk saling cerita mengenai profesi ideal kami, dan kami semua sepakat tidak ada pekerjaan yang betul-betul ideal, semua pekerjaan punya struggle-nya sendiri. Kami sepakat apa yang membuatmu bahagia, maka itu adalah jalan yang tepat! Perkembangan zaman yang begitu cepat di era media sosial seperti sekarang sedikit banyak memang berpengaruh terhadap  behaviour manusia-manusia saat ini. Jika dulu definisi bekerja adalah  keluar pagi pulang sore, pakai seragam, punya kantor dan digaji bulanan sekarang paham tersebut mulai bergeser. Tidak lagi harus menjadi pns/karyawan jika ingin bekerja. 

Anak muda sekarang cenderung menyukai pekerjaan-pekerjaan yang tidak mengikat dan waktunya fleksibel. mengutip dari CNN Indonesia https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20161215174236-277-179907/milenial-generasi-kutu-loncat-pengubah-gaya-kerja
ada pernyataan menarik dari Faridah Lim, country manager JobStreet Indonesia yang mengatakan

"Generasi milenial lahir dan tumbuh di era perkembangan teknologi, memiliki kemampuan menggunakan teknologi lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Kemampuan ini menjadikan mereka mudah mencari informasi, lebih kreatif dan inovatif. Mereka cepat belajar dan snagat kreatif, yang sebenarnya dapat jadi poin positif bagi perusahaan dengan cara memanfaatkan kreativitas generasi ini, namun sayang generasi ini juga mudah pindah kerja bila sedikit saja merasa tidak nyaman."

Sekarang bekerja bisa lewat rumah, kafe, mall, dan co working space (salah satu alasan co working space menjamur juga nih wkwk). Tidak ada yang salah dalam hal ini, menurut kami ini terjadi karena memang sudah seharusnya terjadi, manusia harus bisa beradaptasi dengan cepat jika ingin maju. Saking banyaknya topik obrolan kami kemarin, perjalanan Makassar-Malino-Makassar benar-benar tidak terasa dan malah tidak rela sesi ngobrol-ngobrol liburan rasa kuliah umum ini harus berakhir :'D  menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama orang-orang yang se-frekuensi dengan kita. kemarin kami semua tersadar, kami ini sekumpulan orang-orang aneh HAHAHA, jadi ingat kata-kata @jonathanend di salah satu caption instagramnya 

"People with the same energy will attract each other. Enaknya berteman dengan orang-orang ini adalah mereka open-minded dan cukup positif dalam menanggapi sesuatu. Kalau misalnya gue orangnya negatif, sering komplain dan nyebarin gosip tentang orang lain mungkin mereka akan males temenan sama gue dan sebaliknya. Stay positive and you'll  attract more people with positive vibes as well!"

Gimana #sobataneh ku ? 

Sekumpulan manusia aneh

You May Also Like

0 komentar