Toraja Trip Part 1

by - Oktober 19, 2017

Minggu, 15 Oktober saya bersama dua teman saya, Vivi dan Tias traveling ke Tana Toraja, kami naik Bus Bintang Prima berangkat pukul 10 pagi. Harga tiket busnya Rp.150.000 sekali jalan. Perjalanan darat ditempuh selama kurang lebih 10 jam karena kami sampai di Tana Toraja pukul 20.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya ke Tana Toraja tapi rasanya seperti ini pertama kalinya menginjakkan kaki di sini, karena dulu saya masih usia SMP jadi ingatan tentang perjalanan di Toraja kala itu sudah tidak berbekas di ingatan saya *HAHAHA*.
Sesampainya di Toraja, kami baru tahu bahwa homestay tempat tinggal kami selama di Toraja lokasinya jauh dari pusat kota Toraja, niatan awal mau berjalan kaki langsung sirna, kami kemudian memilih naik mobil rental bersama cowok Jerman yang juga satu bus bersama kami dari Makassar, karena si cowok Jerman ini juga ternyata sudah booking homestay yang sama dengan kami. Ongkos rental mobilnya Rp.200.000 karena kami berempat jadi patungan Rp.50.000 an per orang. Ternyata medan buat sampai ke homestay nya ekstrim banget! jaraknya mungkin sekitar 10km dari pusat kota Toraja. Apalagi waktu itu kondisi cuaca yang sedang hujan deras malam hari ditambah mati listrik, alamak!!
Homestay itu berada di tengah-tengah hutan di daerah pegunungan kota Toraja, tepatnya di Simpang Batutumonga Tikal Lembang Sesean Suloara, Toraja. Nama homestay-nya John Family House. Jadi ini seperti rumah penduduk setempat yang dijadikan penginapan untuk turis-turis yang sedang traveling ke Toraja. Harga sewa per kamar di John Family House ini menurut saya termasuk murah (mungkin karena letaknya yang jauh dari pusat kota ya ?) hanya Rp.150.000/malam include breakfast. Ibu pemilik homestay ini juga super baik dan ramah, sayangnya sampai pulang kami lupa bertanya siapa nama si ibu hihi.
tampak depan John family house



John family house recomended buat kalian yang mencari suasana tenang, sejuk, asri dan suka cuci mata dengan pemandangan hijau-hijau pagi hari. Apalagi buat kalian yang baru saja menikah, highly recomended!! HAHAHA. Malam-malam di homestay ini menurut saya menyiksa karena saya agak cupu kalau kena suhu dingin, apalagi ini suhunya ekstrim, membuat kami bertiga setiap tidur selalu berpelukan (so sweet kan yaa hihi) bagi saya pribadi ketika suatu saat ke Toraja lagi, saya tidak akan menginap di John family house lagi karena tidak kuat dengan suhu dinginnya hahaha, tapi saya tetap merekomendasikan homestay ini karena selain murah, ibunya ramah dan baik banget, kamar mandinya sangat bersih.
suasana pagi hari di teras


Sarapan kami di homestay. 


Nah, masih inget si cowok Jerman tadi ? namanya Florian tapi dia minta dipanggil Flo aja. Nah si Flo ini entah kenapa pas booking kamar di John family house ini sedikit trouble jadi di hp Flo udah ada bukti dia sudah booking tapi kata pemilik homestaynya si Flo nge-cancel jadi kamar yang harusnya buat Flo udah dibooking turis lain, dari India.Di homestay ini kamar yang disewakan hanya 2 dan letaknya di lantai 2 rumah tersebut. Akhirnya Flo diantar oleh driver kami yang tadi untuk cari penginapan di pusat kota Toraja daerah Rantepao. Tidak lama berselang turis yang memesan kamar satunya lagi datang, ternyata dia tidak sendiri, dia bersama seorang turis dari Belanda. Cowok India tadi namanya Deepak dan si cowok Belanda namanya Steve.
Kami masuk ke kamar masing-masing untuk menyimpan barang lalu sayup-sayup kami mendengar Deepak dan Steve keluar menuju teras. Waktu menunjukkan pukul 21.30 kami memutuskan bergabung dengan Deepak dan Steve menyeduh teh panas dan memulai obrolan bersama 2 orang stranger ini. Ternyata suasana dingin malam di homestay tidak terlalu terasa dingin lagi karena Deepak dan Steve mampu mencairkan suasana dengan jokes-jokesnya yang receh. Karena masih mati listrik kami menyalakan lilin, membuat suasana saat itu jadi romantis. Tidak lama kemudian listrik sudah menyala, dan Steve pamit untuk tidur duluan karena dia kelelahan. Jadilah tinggal kami bertiga plus Deepak.
Kami masih belum menyalakan lampu meskipun listrik sudah menyala daritadi niat hati menjaga suasana romantis tadi sampai kemudian Deepak bercerita sesuatu tentang homestay yang membuat kami tidak bisa bernafas untuk beberapa menit dan bulu kuduk merinding. Deepak bertanya ke kami apakah kami tahu bahwa di homestay kami saat ini ada mayat seseorang dan diletakkan tepat di depan kamar kami ? JENG JENGGGG, kami bertiga spontan liat-liatan dan terdiam. Vivi kemudian memutuskan untuk menyalakan lampu karena it’s not romantic anymore.
Saya tahu tentang tradisi orang Toraja, ketika ada anggota keluarga yang meninggal maka mereka harus mengadakan pesta perayaan sebagai penghormatan terakhir kepada yang meninggal tersebut, nama perayaannya rambu solo’ (akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya). Nah karena biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan pesta tidak sedikit maka biasanya pihak keluarga yang ditinggalkan akan menunggu sampai finansialnya cukup dan mayat keluarga yang meninggal disimpan di dalam rumah mereka, yang mengagetkan kami, ternyata di rumah ini juga ada mayat! Mimpi apa kami bertiga baru tiba di Toraja dan dapat kisah seram ini, mungkin tidak seram jika Deepak menceritakannya siang-siang dan di objek wisata, tapi Deepak memilih bercerita ketika baru saja mati lampu, hujan deras dan suasananya sepi mencekam,apalagi rumah ini berada di tengah hutan akses kemana-mana sulit, jalanannya ekstrim, perpaduan yang sangat pas untuk kami sebut : Horor!
Ketakutan, kami semua pun masuk ke kamar masing-masing, lampu kamar tidak kami matikan karena sudah parno sama cerita Deepak tadi. Masalah lain muncul karena kamar mandinya letaknya di lantai bawah. Kami semua kebelet buang air kecil tapi karena tidak berani turun akhirnya mencoba tidur dan melupakan hasrat kebelet ini. Saat kami mencoba tidur, ada yang menggedor-gedor jendela kamar kami. Saya yang aslinya cupu dan penakut udah menciut jadi super kecil nyalinya. Cuma Vivi yang berusaha menenangkan dan tetap kalem. Tias juga sudah diam dan tak bersuara daritadi karena ketakutan. Sungguh pengalaman yang membuat kami sesak nafas sementara HAHAHA.
Hari pertama di Toraja yang penuh drama.
Saya masih akan berbagi pengalaman saya selama traveling ke Toraja, masih ada pengalaman pertama saya melihat langsung tradisi rambu solo’ yang fenomenal dan terkenal diseluruh penjuru dunia dan pengalaman paling gak enak, iphone dicuri di Toraja! ditunggu yaa hihi^^

You May Also Like

0 komentar