Literacy Weekend and Bookcamp 2017

by - Agustus 10, 2017



Sebagai muslim yang meyakini Al quran, ayat pertama yang turun dan diperintahkan kepada umat manusia adalah Iqra, bacalah
Salah satu pernyataan kang Maman di workshop literacy weekend and bookcamp Barru Membaca 2017.
Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 4-6 Agustus 2017 saya mengikuti kegiatan tahunan komunitas literasi #BarruMembaca yaitu Literacy weekend and bookcamp 2017 di Pulau Dutungan Kabupaten Barru. Kegiatan ini dihadiri oleh 16 perwakilan komunitas literasi se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Saya datang ke kegiatan tersebut dengan kapasitas saya sebagai salah satu undangan mewakili Rumah Baca Wanua Sijai (@rumahbacawija) yang saya gagas bersama teman-teman saya di Kabupaten Sinjai. Harusnya sih yang hadir 4 orang karena kuota masing-masing komunitas itu 4 anak tapi karena teman-teman yang lain sedang  berhalangan untuk hadir maka jadilah saya berangkat seorang diri *ngenes*. Perjalanan ke Barru ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Makassar saya berangkat bersama 2 orang perwakilan komunitas @tikarliterasi karena sama-sama berada di Makassar dan sama-sama memilih naik kendaraan umum. Sebagian peserta undangan lainnya berangkat menggunakan motor, ada yang dari Makassar ada juga yang langsung dari daerahnya masing-masing.
Acara ini merupakan bentuk silaturahmi antar para pegiat literasi di SulselBar, saya baru tahu ternyata komunitas literasi di SulselBar banyak juga dan mereka semua seru-seru!! Selama 3 hari bersenang-senang di Pulau Dutungan saya tidak hanya mendapatkan teman baru tentunya tapi juga mendapatkan banyak sekali ilmu dan moral value yang mungkin tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Hari pertama dimulai dengan perkenalan komunitas-komunitas, acaranya harusnya mulai jam 8 malam tapi karena masih ada beberapa peserta yang belum datang acara diundur ke pukul 22.00, ternyata hal itu tidak menyurutkan antusias teman-teman peserta yang hadir, mungkin karena acara-acara kayak gini sangat jarang jadi masing-masing kami memanfaatkan momen ini untuk saling curi-curi ilmu dan menambah teman syukur-syukur ada yang cinlok *nahloh*. Presentasi malam itu juga diikuti oleh kak Ridwan Mandar pemilik armada pustaka Mandar, kalau kalian sering menonton acara talkshow Mata Najwa pasti tidak asing dengan kak Ridwan. Selain kak Ridwan juga ada kang Maman, nah kalau ini sih sepertinya saya tidak perlu menjelaskan siapa karena wajahnya bisa kita saksikan setiap hari wara wiri di televisi. Kang Maman dan Kak Ridwan adalah salah dua pegiat literasi yang juga hadir di acara bookcamp tersebut untuk membagikan ilmu dan saran-sarannya tentang bagaimana strategi pengembangan literasi yang baik dan benar hingga diskusi tentang isu-isu yang sedang hangat dibincangkan.
Selain @rumahbacawija ada sekitar 15 komunitas literasi lainnya yang hadir ada @bulukumba_membaca , @soppengmembaca , @wajomembaca , @sidrapmembaca , @pareparemenulis , @kajuaramembaca , @tikarliterasi , @ruangabstrakliterasi , @stigma , @sahabatkitapinrang , @pangkepinitiative , @thefloatingschool , @rumahluwu , dan @pustakaballakkana. Ketua komunitas #BarruMembaca kak Anhar menyampaikan beberapa hal yang menurut saya menarik. Salah satunya adalah apa sih urgensi terlibat dalam komunitas-komunitas literasi seperti ini ? salah satunya adalah untuk menangkal hoax-hoax yang merajalela di linimasa sosial media, kenapa kita harus memerangi hoax ? coba teman-teman pikirkan efek samping kalau banyak hoax yang bertebaran lalu dengan minat baca yang rendah (tentang minat baca masyarakat Indonesia yang rendah teman-teman bisa googling sendiri, ada beberapa survey yang mengatakan minat baca orang Indonesia itu rendah, salah satunya survey Unesco bahwa minat baca di Indonesia itu hanya 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang punya minat baca serius! Miris banget kan) bisa jadi kita menelan mentah-mentah berita-berita hoax yang beredar, hal-hal yang tadinya harusnya bisa dikonfirmasi terlebih dahulu kemudian ditelan mentah-mentah karena keengganan unuk membaca dan mencari tahu lebih jauh, akibatnya apa ? benih-benih perselisihan bermunculan, cyber bullying, maki-maki di sosial media, fitnah sana sini. Awalnya hanya dari “malas baca” penuturan kak Anhar itu kemudian menyadarkan saya bahwa memang banyak dari kita yang abai akan hal itu, awalnya mungkin hanya dianggap biasa dan angin lalu tapi siapa yang akan menjamin apa yang akan terjadi setelahnya ? minimal kalau belum bisa mengajak orang lain mulailah dari diri sendiri. Gimana sampe sini sepakat ?
Nah keesokan harinya, hari Sabtu pagi itu diisi oleh kak Ridwan. Kak Ridwan berkisah tentang pengalamannya menjadi nahkoda perahu pustaka, saya baru tahu bahwa kapal yang dipakai berlayar ternyata pernah terbalik dan tenggelam! Kurang lebih 3000 buah buku ikut tenggelam, tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat kak Ridwan yang saat ini sudah memiliki lebih dari lebih dari 10.000 koleksi buku di perpustakaan miliknya di Mandar dan kebanyakan dari koleksi bukunya adalah donasi dari masyarakat. Perahu kak Ridwan juga sekarang ada 3 buah dan ada motor ATV (motor pustaka) 2 buah yang dipakai untuk ke menjangkau daerah pegunungan membawa buku-buku yang bisa dibaca gratis oleh anak-anak yang tidak bisa mengakses buku-buku secara bebas seperti anak-anak di perkotaan. See ? kekuatan cinta memang sebesar itu, melakukan sesuatu atas dasar cinta tidak pernah terasa melelahkan. Satu pernyataan yang paling saya ingat dari kak Ridwan adalah
Apa yang kita lakukan sekarang ini (menyebarkan virus literasi,menggiatkan minat baca masyarakat) tidak akan terasa dampaknya dalam 2-tahun ke depan, dampaknya baru akan terasa setelah 10-20 tahun kemudian, kalian akan melihat anak-anak kecil yang kalian ajar, anak-anak kecil yang jejali dengan buku sejak dini akan telihat bedanya dengan mereka yang tidak bersahabat dengan buku sejak kecil”.
Sesi bersama kak Ridwan diakhiri dengan foto bersama para peserta dan Kak Ridwan serta Kang Maman. Sabtu sorenya,  produktif itu diisi oleh workshop kang Maman tentang strategi pengembangan literasi di daerah masing-masing, tentang bagaimana efektivitas 7c (community, content, creativity, colaboration,connectivity, crowd, and celebration). Kang Maman juga memaparkan ada 3 tingkatan literasi, yaitu literasi paling dasar adalah literasi teknis, kemudian literasi fungsional dan terakhir literasi budaya.
Di era milenial story telling adalah kata kunci, semuanya harus dituturkan, apa yang sedang kalian lakukan jika itu hal-hal baik silahkan dishare, berceritalah pada khalayak, kita tidak dilarang kok menyebarkan kebaikan. Gak usah takut dibilang riya karena apa-apa diposting. Masih mending sebar kebaikan daripada sebar hoax ?” seloroh kang Maman yang disambut gelak kami semua.
Saya tidak tahu, apakah saya yang punya jiwa empati terlalu tinggi atau kang Maman yang berhasil menyihir saya pribadi dengan ceritanya tentang Re: seorang wanita yang dikisahkan kang Maman di novelnya dengan judul yang sama, Re: saya tidak mau terlalu banyak spoiler, kalau kalian penasaran silahkan beli bukunya dan baca sendiri (ini tidak di endorse sumpah wkwk) tapi saat kang Maman menceritakan tentang Re: saya sampai menangis tersedu-sedan. Sesi bersama kang Maman berakhir pukul 16.00 tapi kami semua malah keasyikan ngobrol sampai magrib!

Malam puncak bookcamp-nya kita disuguhi musik dari musisi Barru, membunuh waktu dengan mendengarkan musikalisasi puisi yang sangat “asu” dari teman-teman pare-pare menulis. Dinginnya angin pantai sebenarnya menghantam hingga ke tulang tapi puisi cinta dan lagu Ibu dari Iwan Fals duet maut kang Maman dan Fandy WD malam itu membuat kami merinding dan merasakan hangat kenangan pelukan Ibu dan orang-orang terkasih. Terakhir dari saya, menghaturkan banyak terima kasih kepada kak Ridwan dan kang Maman untuk suntikan energi positif kepada kami para pegiat literasi di daerah dan tentu saja terma kasih sangat banyak dan seluas-luasnya kepada #BarruMembaca yang telah bekerja keras mengadakan kegiatan ini, semoga kegiatan-kegiatan positif dan produktif seperti ini bisa terus ada dan berkembang. Mungkin di kesempatan berikutnya komunitas-komunitas lain yang akan berperan sebagai tuan rumah. Amin. Salam literasi.















You May Also Like

1 komentar