Tentang bahagia dan sedih yang datangnya selalu bersama

by - Oktober 04, 2016


Saya ditinggalkan oleh salah satu teman terbaik yang saya punya, Luthvia Moonda. ditinggalkan ke Eropa, ke Inggris. Dia akan menetap disana selama satu tahun. Bagi saya, dia tidak hanya sekedar teman yang tidak sengaja ketemu di Pare kampung inggris tapi juga sahabat,kakak perempuan,kadang temen berantem,temen jail-jailan,guru, dan tentu seorang perempuan yang sangat menginspirasi saya setelah Mama dan mba Najwa Shihab. Yaa saya mengagumi dia seperti fans mengagumi idolanya.

Kami banyak bertukar kisah. Sepulang dia dari Kairo, dia pergi ke sebuah kampung kecil di Kediri Jawa Timur, kampung inggris. Di kampung inggris lah kisah kami berdua dimulai. Saya ingat saat pertama kali dia masuk ke camp (waktu itu kami ngecamp ikut program dari lembaga kursusnya) mukanya datar dan nampak jutek banget, saya langsung menawarkandia untuk satu kasur dengan saya, karena waktu itu saya masih sendiri di kasur yang bisa muat sampai 3 orang. Setelah kenal saya tahu dia tidak sejutek dan sedatar kelihatannya, dia sangat ceria dan amat sangat menyenangkan!! Walaupun pernah saya juga melihat betapa dia rapuh dan butuh orang lain untuk sekadar berbagi beban.

Kami memang baru berteman sekitar satu tahunan ini, tapi karena saya selalu bisa merasakan energi positif saat bareng sama dia makanya saya betah dan nyaman! Selain itu faktor lain adalah saya tidak punya kakak perempuan, saya adalah seorang anak sulung, kehadirannya disisiku mengisi kekosongan tersebut.

Kilas balik di Pare, saat di camp siang-siang selepas kelas kami membunuh waktu dengan menonton drama horor korea, saat weekend setelah menyelesaikan semua tugas piket kami biasanya tiduran dikamar dan dia menyetel lagu-lagu payung teduh atau lagu favorit dia (yang akhirnya sekarang jadi lagu favoritku juga) "whiskey lullaby" sambil sesekali dia menceritakan masa-masa kuliah dia di Kairo, saya selalu senang dan antusias mendengar ceritanya tentang masa-masa kuliahnya.

Pernah juga, kami ke Malang rame-rame. Bersama teman dekat kami yang lain juga yaitu, teh cici dari Bandung, dan Laras asal Madura kuliah di Malang. Kami menginap di tempat Laras. 1 hari di Malang, Mia (teman camp paling kecil dan paling muda asal Bekasi) nyusul ke Malang. Jadilah kami berlima menghabiskan waktu dengan jalan-jalan keliling kota Malang. Kami naik motor (waktu itu selain motor Laras, kami dipinjami motor oleh penjaga kost Laras, baik banget yah! :") hihi) ke Batu ke alun-alun Batu makan ketan di pos ketan legenda, ke paralayang, omah kayu (waktu itu masih tutup karena kami datangnya terlalu pagi, keesokan harinya kami pergi lagi dan sudah buka) museum angkut walaupun yang masuk ke dalam cuma saya dan teh cici yang lain tidak mau masuk degan macam-macam alasan, lalu makan pecel kane dan lain-lain sampai akhirnhya kami kembali lagi ke Pare. Waktu itu saya ingat kami berlima terancam tidak bisa tidur di camp karena aturan di camp lewat dari jam 10 malam pintu sudah dikunci kami memang berangkat dari Malang agak telat, tapi saya ingat waktu itu dia yang paling keras protes ke penjaga camp soal perijinan ini. Ahh Pare saya rindu semua kenangan yang ada didalamnya.

Terima kasih mba vie, telah membukakan mataku tentang banyak hal, terima kasih karena telah menjadi inspirasiku. Selanjutnya biarkan adikmu ini juga belajar menjadi kupu-kupu. Belajar untuk tahan banting terhadap segala jenis cemoohan orang, dianggap sebelah mata. Sekarang saat masih jadi kepompong saya berjanji akan terus berproses menjadi kupu-kupu yang punya sayap yang indah dan bisa terbang jauh dan tinggi. Saya berjanji akan menjadi FIRA yang lebih banyak bersyukur, belajar,bermimpi, dan berjuang!!

Thankyou for taught me many things, mba vie! im gonna miss you. I love you to the moon.








Beberapa kenangan kita yang sempat diabadikan kamera.

You May Also Like

2 komentar