Peringatan Hari Kartini

by - April 24, 2016

Kemarin tanggal 21 April pada peringatan hari Kartini, saya bersama adik-adik binaan komunitas save street child Semarang menghadiri undangan menjadi peserta di museum Ronggo Warsito Semarang. Saya sudah dihubungi oleh pihak museum 3 minggu sebelum acara dan tidak ada yang perlu kami siapkan, dresscode tidak ditentukan, kami tidak perlu menampilkan apapun dan lain lain.

Tanggal 21 pun tiba, saya bersama Shinta & Tina (salah dua pengurus di komunitas SSC Semarang) menjemput adik-adik binaan kami di daerah tugu muda depan pasar bulu sekitar pukul 07.00 pagi. Setelah minta ijin ke orang tua anak-anak kami berangkat ke museum. Saya dan Tina bersama 5 anak-anak ssc menggunakan angkutan umum menuju museum sementara Shinta naik motor bersama Salsa & Fita (dua anak ssc). Sesampainya di museum saya langsung menghubungi pegawai museum yang mengundang kami, kami langsung diarahkan menuju ke rumah joglo museum, terlihat dari kejauhan juga banyak anak-anak lain umur sekolah yang juga ada disana (mungkin peserta story telling juga pikirku saat itu) namun mereka semua menggunakan baju kebaya dan baju adat jawa. Shinta, & Tina sontak saling tengok dan menoleh ke saya mata mereka minta penjelasan (kita gak salah kostum kan kak fir ?) saya hanya mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepala (kemarin saya udah nanya dresscode katanya bebas) dan anak-anak ssc yang saya bawa pun semuanya diam dan melangkah dengan malu-malu, mereka langsung minder karena mereka tidak menggunakan kebaya seperti anak lain, mereka hanya memakai pakaian sehari-hari dengan sendal jepit di kaki.

Saya, Shinta, & Tina berusaha menghibur anak-anak tersebut bahwa kita tidak berbeda dengan mereka yang memakai kebaya di hari Kartini, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari tampilan fisiknya. Namun itu tidak terlalu mempan karena orang-orang yang berada disana (anak-anak lain, guru-guru pendamping mereka dan bahkan beberapa pegawai museum) melihat kami dengan pandangan yang seolah-olah berkata "kalian gak salah kesini ?" membuat anak-anak ssc semakin minder.

Kami ke museum diundang secara resmi, saya bahkan ada suratnya tembusan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Semarang serta tembusan dari Kepala museum. Sampai ketika kami masuk kedalam museum kami antri untuk mengisi absen salah satu bapak-bapak disitu (aku gak tahu dia pegawai museum atau bukan yang jelas dia menggunakan seragam dinas pns) menghampiri saya dan berkata "mbak, kalo mau kunjungan bukan disini, ini khusus peserta story telling" dia memandang saya dengan pandangan yang sangat tidak ramah dan bahkan terkesan meremehkan, dengan sedikit sengak dan sedikit emosi saya menjawab "saya pendamping komunitas SSC pak, adik-adik saya ini juga peserta story telling kami diundang kesini" sontak bapak tersebut mundur beberapa langkah seraya berkata lirih "ohh..." ucapan saya juga ditimpali pegawai museum yang lain "iya mereka undangan pak" saya pun melihat sinis ke bapak-bapak tadi.

Shinta & Tina juga terlihat tersinggung dan saya pun bertanya ke pegawai museum yang memberikan saya undangan
Saya : pak ini kami diundang kesini pegawai museumnya tau kan pak ?
Bpk J : Tahu kok mbak Fira, ada apa ya ?
Saya : Oh gapapa pak, tadi ada yang mengira kami bukan peserta story telling
Bpk J : Oh mungkin beliau tidak ikut pas rapat mbak. Mari silahkan isi absensinya dulu acaranya akan segera dimulai.

Saya tidak tahu apa karena penampilan anak-anak yang saya dampingi tidak mewah seperti anak-anak lain maka bapak tadi memandang enteng kami atau seperti apa, yang jelas saya tahu bahwa roda kehidupan itu berputar pak, sekarang bapak memandang enteng anak-anak dampingan saya, namun siapa yang tahu mungkin beberapa tahun lagi mereka bisa jadi anak-anak yang membanggakan negeri ini. Tolonglah pak, bapak sebagai orang mampu jangan melihat seseorang dari tampilan luarnya. Anak-anak dampingan saya ini mungkin tidak seperti anak bapak yang kalau weekend mainnya di mall bisa piknik tiap bulan ke luar kota dna segala kemewahan-kemewahan lainnya, mereka mainnya dijalanan, tapi mereka semua sekolah. sepulang sekolah mereka jualan koran hingga malam hari, mereka jualan koran bukan buat siapa-siapa tapi buat diri mereka sendiri, untuk uang jajan tambahan mereka agar tidak lagi menyusahkan orang tuanya, dan satu lagi mereka mempunyai semangat belajar yang besar pak, mereka akan sangat bahagia jika diberi hadiah seperti buku atau pensil, atau apapun yang bisa menunjang mereka untuk belajar, mereka tidak pernah memikirkan tentang trend terbaru, gadget dan ps seri terbaru. Itulah kenapa saya merasa marah ketika kemarin ada yang meremehkan mereka, karena saya tahu sedikit tentang mereka.

Untuk teman-teman diluar sana, semoga kita tidak menjadi orang-orang yang gampang meremehkan orang lain.

You May Also Like

0 komentar